Bila memasuki gerbang sekolahan ini, aroma atmosfir perkatoran metropolitan begitu terendus kentara. Sejenak menyusuri koridornya, Anda lebih menyerupai tengah pelesir ke sebuah kantor startup inovatif alih-alih ke sekolah tradisional. Itu lah pesona manifestasi metode "Teaching Factory" (TeFa) yang tengah digaungkan di antero negeri.
Sistem TeFa mewajibkan sarana ruangan diseting menyerupai pabrik atau bilik operasional spesialis sesungguhnya, beserta perangkat aturan keamanan kerja (K3), jenjang hierarki penugasan mandor, hingga pemakaian perangkat standar industri. Siswa dilatih berproduksi menciptakan sesuatu yang langsung terjual laku di pasar awam (market).
Sajian layanan konsumen (Customer Support) di jurusan pemasaran, gerai reparasi (Workshop) profesional bagi publik luar oleh jurusan otomotif, jasa pembuatan seragam partai dari tata busana, dan agensi rekayasa aplikasi bisnis oleh kelompok PPLG menumbuhkan kesadaran riil atas arti dedikasi pencapaian akhir.
Guru beralih status menyerupai seorang Project Manager yang bertugas mereview cacat (defect) produksi. Pendapatan (Omzet) hasil jerih payah para taruna vokasi pada unit lini kegiatan TeFa kelak diserap sepenuhnya guna kembali memodali subsidi bahan baku bagi generasi penerus di angkatan adik kelas bawah mereka.